9 Jun 2013

DIMENSI BELAJAR GERAK DALAM PENDIDIKAN JASMANI

Tugas : Individu
Mata kuliah : Belajar Gerak


UNM


NAMA : AMRAN
NIM : 12B04018
KELAS/JURUSAN : A (PENJAS DAN OLAHRAGA)



PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR



KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga makalah ini telah selesai di kerjakan. Melalui makalah ini, saya berharapakan menambah referensi yang berarti bagi mahasiswa yang sedang menjalani studi.
Bagi Mahasiswa, makalah ini diharapkan dapat menjadi landasan pemikiran serta perilaku sebagai calon pengajar yang mampu memahami setiap melakukan pembelajaran gerakan pada siswa. Lebih lanjut lagi dengan pemahaman yang baik diharapkan pula dapat menentukan metode pendekatan dalam strategi pengembangan pembelajaran gerak pada siswa. Akhir kata saya berharap akan saran dan pendapat atas makalah ini agar lebih baik lagi. Semoga bermanfaat, Amin Ya Rabbal Alamin.




DAFTAR ISI

I. Kata pengantar ..............................................................................................
II. Daftar isi ..............................................................................................
1. BAB I :PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................
2. BAB II : PEMBAHASAN
A. Pendidikan jasmani disekolah sebagai media pembelajaran gerak ............
B. Faktor- faktor utama yang mempengaruhi belajar gerak ................................
C. Kategori pembelajaran gerak ........................................................................
D. Pengambangan assemen untuk pembelajaran keterampilan gerak ............
3. BAB III : PENUTUP ................................................................................................
III. Daftar pustaka ...........................................................................................................



BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu hal yang paling menyedihkan dari semua situasi dalam pembelajaran adalah ketika para guru mengajar tetapi anak-anak tidak belajar. Hal ini terjadi karena guru tidak memahami bagaimana siswa belajar. Membuat anak belajar, terlebih mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan bukan hal yang mudah dalam situasi pembelajaran. Terutama apabila guru tidak memahami apa yang harus dilakukan untuk menciptakan kondisi kondisi tertentu, sehingga anak dapat belajar. Bagaimana anak belajar? Apa yang dipelajari anak? Hasil apa yang dicapai? Semua itu merupakan pertanyaan yang harus mampu dijawab oleh seorang guru. Pembelajaran keterampilan gerak merupakan salah satu bagian dari pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah, yang kepadanya dibebankan tanggung jawab untuk mencapai pembelajaran agar anak memiliki keterampilan gerak yang memadai. Keterampilan gerak merupakan kemampuan yang seharnsnya dimiliki oleh siswa sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Apabila seorang anak mempunyai keterampilan gerak yang baik, makadia mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat menguasai kecakapan hidup yang dibutuhkan. Persoalan yang muncul adalah bagaimana guru pendidikan jasmani dapat menciptakan, mendorong dan mengelola situasi pembelajaran dengan segenap kemampummya agar anak dapat belajar dan mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk dapat mencapai tujuan pencapaian keterampilan gerak yang baik melalui pembelajaran pendidikan jasmani bukan merupakan upaya yang mudah. Hal ini disebabkan oleh pandangan sebagian orang terhadap pendidikan jasmani yang menurutnya hanya mendatangkan kelelahan saja. Kemudian diperparah lagi dengan alokasi waktu yang diberikan oleh kurikulum yang belum sesuai dengan kebutuhan yang disyaratkan. Keadaan ini terjadi hampir di semua jenjang pendidikan mulai SD sampai SMA, yang mengakibatkan rendahnya tingkat keterampilan gerak siswa di sekolah. Untuk itu tulisan ini memberikan gambaran mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pencapaian pembelajaran keterampilan gerak melalui pendidikan jasmani di sekolah.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Jasmani di Sekolah Sebagai Media Pembelajaran Gerak
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuaan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan seluruh potensi siswa (Singer and Dick, 1980: 193). Secara lengkap, pendidikan jasmani bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebu-garan jasmani, keterampilan berpikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olahraga (Thomas, Thomas and Lee, 1988:59).
Selanjutnya dinyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-spiritual dan sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang (Corbin, 1960: 16). Untuk itu menurut Singer (1975:34), pendidikan jasmani memiliki peran sangat penting dalam mengintensifikasikan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, olahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah, dan terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan, dan memelihara kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia (Singer, 1975:36).
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainanl olahraga, intemalisasi nilai (sportivitas, jujur, kerjasama), dan pembiasaan pola hidup sehat. Untuk itu dalam pelaksanaan pendidikan jasmani tidak hanya melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis,namun melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosi dan sosial. Selain itu aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Tidak ada pendidikan yang tidak mempunyai sasaran paedagogis, dan tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani. Karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenai dunia dan dirinya sendiri yang secara alamiah berkembang searah dengan perkembangan jaman.

B. Faktor- faktor Utama yang Mempengaruhi Belajar Gerak
Pada dasarnya pencapaian keterampilan belajar gerak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Magin (1984:44) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar gerak adalah:
(1) Memahami apa yang harus dipelajari,
(2) Kesempatan untuk merespon,
(3) Adanya umpan balik, dan
(4) Reinforcement. Penjelasan secara singkat, masing-masing adalah sebagai berikut. Memahami apa yang harus dipelajari, merupakan hal penting saat pembelajaran berlangsung. Kejelasan mengenai tujuan pembelajaran berupa keterampilan yang harus dikuasai dan merupakan keadaan yang harus diketahui oleh anak untuk membantu efektivitas pembelajaran. Dalam pembelajaran situasi seperti ini sering disebut sebagai cara "memberi stimulus". Meskipun terdengar Sebagai suatu hal yang sederhana, memberikan stimulus, menurut beberapa penelitian memberikan pengaruh yang positif terhadap efektivitas pembelajaran. Di satu sisi, kadang kadang guru memberikan begitu banyak instruksi, dan menjelaskan tugas dengan tidak jelas, sehingga sulit dimengerti oleh anak-anak terutama keterampilan apa yang akan dicapai. Setelah dilakukan koreksi sebagai umpan balik, barulah anak-anak memahami apa yang sebenamya diinginkan oleh guru. Di sisi lain guru mungkin menganalisis keterampilan dengan jelasnya, sehingga terlalu overload informasi, akibatnya anak tidak dapat merespon sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Instruksi secara verbal, demonstrasi dan berbagai alat bantu mengajar dapat digunakan sebagai alat untuk memperjelas tujuan belajar. Secara umum dapat dikatakan bahwa anak belajar dengan baik ketika mereka dapat menjelaskan atau mendemonstrasikan dengan baik keterampilan yang diharapkan atau tujuan belajar yang ingin dicapai. Kesempatan untuk merespon Dari beberapa penelitian yang dilakukan di sekolah, jelas banya kesempatan untuk merespon dan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi penguasaan saat pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa siswa harus termotivasi untuk mencapai tujuan belajar dan mendapatkan umpan balik mengenai usahanya tersebut. Hal ini menunjuk kepada respon yang berkualitas yang harus didapatkan oleh anak. Karena kadang-kadang anak memiliki banyak kesempatan untuk merespon sepanjang pembelajaran, tetapi bukan respon yang berkualitas. Banyak studi yang telah dilakukan mengenai jadwal praktik, cara mengorganisir anak dalam lingkungan belajar, ukuran kelas, dan alat alat pembelajaran, yang kesemuanya memberikan hasil yang signifikan karena tingginya kualitas merespon dar anak-anak. Banyak juga pendapat yang menyatakan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk lebih terlibat dalam pembelajaran. Merupakan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran gerak. Secara tradisional, guru sering menggunakan pendekatan diri sehingga anak harus berdiri diam sambil menunggu giliran. Hal ini berbeda dengan pendekatan pembelajaran gerak yang memberikan kebebasan gerak secara aktif kepada anak, sehingga meningkatkan kuantitas latihan, dan makin banyak anak memberikan respon makin banyak anak tersebut belajar. Umpan balik telah diketahui bahwa umpan balik sangat diperlukan dalam pembelajaran, tanpa umpan balik belajar tidak akan terjadi. Jika siswa diminta menggambar garis sepanjang 20 m tanpa menggunakan penggaris, maka siswa akan berusaha untuk melakukannyaya dengan memperkirakan panjang garis tersebut.
Apabila siswa ditugaskan untuk membuat garsi kedua dengan panjang yang sama, mungkin, siswa akan menggambar lebih panjang dari garis pertama, atau mungkin lebih pendek. Setelah diberikan umpan balik bahwa garis itu kurang panjang atau kurang pendek, maka siswa akan segera memperbaikinya. Seberapa cepat siswa melakukannya tergantung pada umpan balik yang diterima. Apabila umpan balik berbunyi terlalu pendek atau terlalu panjang, mungkin siswa dapat dengan cepat merespon untuk memperbaiki, tetapi apabila umpan balik itu berbunyi lebih pendek, maka siswa akan merespon dengan terlebih dahulu mengira-ngira panjang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa umpan balik yang berbeda akan memberikan presisi yang berbeda terhadap tugas yang diberikan. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa semakin tepat informasi yang diterima sebagai umpan balik, maka semakin cepat siswa belajar. Keuntungan dari pembelajaran gerak adalah kaya akan umpan balik. Sebagian besar keterampilan gerak yang diberikan dalam pendidikan jasmani di sekolah mempunyai tujuan, dan memberikan respon segera setelah informasi mengenai tujuan tersebut dicapai.
Untuk itu guru harus belajar menjadi ahli dalam memberikan umpan balik, yang meliputi kemampuan untuk menganalisis performa, jeli menetapkan kekurangan atau kelebihan penguasaan gerak serta memberikan koreksi yang sesuai dengan kebutuhan anak berdasarkan Analisis yang dilakukan. Reinforcement secara teoritik sulit untuk membedakan antara umpan balik dan penguatan. Penguatan biasanya digambarkan sebagai rangkaian penguatan yang mengikuti suatu perilaku tertentu dan meningkatkan kesempatan bahwa perilaku tersebut akan terulang. Sedangkan umpan balik mengikuti respon yang tampak. Ketika guru berkata, "Bagus, Yanto, pertahankan ayunan lenganmu". Pada dasarnya kata-kata tersebut merupakan umpan balik sekaligus penguatan. Dengan demikian sangat penting bagi guru untuk mengetahui bahwa penguatan, sebagai factor dasar dalam belajar, yang meliputi aspek-aspek motivasional dalam penguasaan keterampilan gerak. Penguatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, antara lain seperti kata-kata dari guru, pengakuan dari teman, memenangkan pertandingan, memperoleh keterampilan yang lebih baik, tanda penghargaan, perhatian dari orang tua. Semua komponen Dalam pembelajaran memerlukan motivasi agar mau belajar. Ketika guru mengajar dengan anak-anak yang memiliki motivasi tinggi, pembelajaran akan lebih mudah, tetapi apabila anak tidak termotivasi untuk belajar, maka yang terjadi adalah kebalikannya.

C. Kategori pembelajaran Gerak
Sejak beberapa tahun yang lalu pembelajaran gerak telah dikategorikan berdasarkan tahap-tahap pencapaian tujuan. Setiap kategori menampilkan tujuan pembelajaran yang sangat jelas. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai tujuan berbeda antara kategori satu dengan yang lain. Dengan memahami tujuan belajar untuk setiap kategori, guru dapat merancang tugas-tugas yang sesuai dengan tahap pembelajaran gerak (Sage, 1984: 16). Menendang bola mungkin nampak sebagai keterampilan yang berbeda dengan memukul bola dari batting te pada softbaal, kenyataannya perilaku pada rnasing-masing kemampuan gerak rnasuk ke dalam kategori yang sama. Keuntungan menggunakan pendekatan kategori ini adalah setiap kategori saling berhubungan atau mempunyai keterkaitan. Untuk belajar pada tahap tertentu anak harus sudah menguasai kemampuan pada tahap sebelumnya. Apabila anak akan belajar keterampilan tertentu, system kategori ini dapat membantu guru untuk mengetahui keterampilan apa yang sudah dikuasai, sehingga anak dapat memulai keterampilan pada tahap yang benar. Adapun tahap-tahap dalam sistem kategori ini secara hirarki adalah sebagai berikut. Perlu dicatat bahwa tahap-tahap bejajar yang dikutip di atas masuk ke dalam ranah psikomotor dan bukan pada ranah kognitif. Penekanannya hanya pada penguasaan keterampilan. Hal ini bukan berarti bahwa ranah kognitif tidak penting, tetapi karena kemampuan kognitf lebih mudah untuk dikenali. Belaiar kemampuan emosional. Pada dasarya anak bereaksi terhadap situasi pembelajaran secara emosional. Perilaku yang dapat diamati pada anak yang merespons secara emosional adalah ketika anak berusaha menghindar ataupun melibatkan diri saat pembelajaran berlangsung. Respons emosional positif (melibatkan diri) akan mendorong anak untuk belajar, tetapi ketika anak mempunyai respons emosi negative terhadap situasi belajar, mereka tidak akan mencapai apa yang diharapkan. Tes mengenai emosional dalam belajar hanya dapat dilakukan dengan mengamati kecenderungan perilaku anak dalam melibatkan diri atau menghindar saat melakukan aktivitas belajar (Callahan and Clark, 1983:198).
Respons sederhana. Pada tahap ini penguasaan keterampilan gerak difokuskan kepada belajar merespons gerak sederhana. Contohnya antara lain melompat, mengayun kayu pemukul dan melempar bola. Tahap ini dapat dikatakan dikuasai ketika kemampuan dapat dilakukan secara cepat dan secara otomatis dalam suatu rangkaian gerak yang efisien tanpa bantuan dari seorang guru. Respons sederhana akan terbentuk seiring dengan kesesuaian antara bentuk gerak dengan efisiensi gerak tubuh. Belajar membedakan respons. Belajar pada tahap ini memerlukan penguasaan respons sederhana yang akan terkait dengan situasi belajar dengan rangsangan tertentu. Sebagai contoh memukul bola diam dan menendang bola diam. Kemampuan pada tahap ini diukur dengan menilai kecakapan anak dalam menampilkan tugas gerak yang sesuai atau respons yang ditunjukkan terhadap rangsangan yang diberikan tanpa bantuan dari luar (Bigge, 1982: 1-7).
Membedakan respons ganda. Tahap ini mempakan tahap yang paling sering terjadi dalam situasi belajar pendidikan jasmani, yaitu difokuskan kepada kemampuan anak untuk menampilkan respons yang sesuai terhadap serangkaian stimulus. Pada tahap ini anak harus mempelajari sejumlah respons dan mengetahui bagaimana memilih suatu respons untuk situasi tertentu. Sebagai contoh adalah memukul bola hasil lemparan, menendang bola bergerak, atau bergerak mengikuti irama musik. Belajar pada tahap ini memerlukan banyak latihan yang melibatkan banyak rangsangan yang berbentuk situasi-situasi belajar, sehingga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan respons yang sesuai. Hal ini akan membawa implikasi pada pengayaan dan keragaman lingkungan belajar dengan memberikan banyak kesempatan pada anak untuk merespons berbagai situasi belajar yang berbeda. Formasi konsep gerak. Pada saat belajar bagaimana menendang bola, anak tidak akan mempelajarinya secara terpisah dan anak tidak akan be1ajar menendang untuk setiap bola umpan yang bervariasi. Tetapi anak akan belajar mengelompokkan respons-respons sebagai suatu konsep. Anak belajar bahwa bola bergerak dengan pola yang sama meskipun datang dari arah yang berbeda, sehingga untuk menendang bola tersebut dengan baik, anak mengembangkan bermacam-macam respons sesuai dengan kebutuhan (Schuur, 1980:66). Sama dengan ketika akan mengembangkan konsep tentang mobil dan bagaimana membedakan antara sedan dan truk. Dengan kata lain, anak akan menggeneralisasikan berbagai respons ke dalam korisep dan membedakan konsep-konsep tersebut sesuai dengan situasi. Pendidikan gerak sarat akan konsep pembelajaran gerak baik sebagai tahap penguasaan gerak, pola gerak maupun focus gerak. Ketika anak telah memperoleh konsep-konsep tersebut dan dapat membedakannya, mereka dapat mengaplikasikannya untuk mengatasi masalah- masalah gerak. Rantai gerak, Rantai gerak merupakan serangkaian respons gerak sederhana yang dikuasai secara efektif dan efisien yang ditampilkan sesuai dengan isyarat khusus. Melompat melewati mistar pada lompat tinggi merupakan salah satu contoh mengenai rantai gerak. Di dalamnya terdapat pendekatan, kesesuaian momentum gerak, ketepatan waktu melompat, dan saat mendarat. Rantai gerak bekerja bersama sebagai suatu rangkaian yang harmonis, sehingga pelompat tinggi tahu kapan harus melompat, kapan harus menghindari rintangan mistar, dan mendarat dengan baik. Kemampuan pada tahap rantai gerak dapat ditunjukkan ketika gerak dapat dilakukan dengan luwes dan memiliki sinkronisasi tinggi dengan isyarat-isyarat gerak.
Keterampilan kompleks. Keterampilan kompleks menuntut anak untuk dapat memiliki kombinasi dari rantai gerak sesuai dengan urutan yang benar. Pada tahap ini anak telah dapat membedakan isyarat-isyarat yang datang diantara banyak isyarat dalam suatu kelompok. Pada saat bermain basket anak menggiring bola, dan pada saat yang tepat mengoper bola tersebut kepada ternan seregu untuk dimasukkan ke dalam ring. Pada saat bermain bolavoli anak dapat menerima servis lawan untuk kemudian diarahkan kepada pengumpan agar teman yang lain dapat melakukan smash. Pada sepakbola dapat menggocek bola melewati lawan, atau memasukkan bola ke gawang lawan setelah menerima umpan dari ternan seregu (Bucher and Koenig, 1983:269-270).
Keterampilan kompleks biasanya memerlukan waktu yang lama untuk dapat menguasainya. Dalam pendidikan jasmani, keterampilan kompleks sering disebut dengan keterampilan terbuka, karena tuntutan lingkungan yang tidak dapat diramalkan. Sedangkan
lawannya adalah keterampilan tertutup di mana tuntutan lingkungan dapat dengan mudah diramalkan. Keterampilan tertutup dapat dianalogikan dengan rantai gerak.

D. Pengembangan Assemen untuk Pembelajaran Keterampilan gerak
Proses penilaian pada dasarnya merupakan bagian integral dari proses pembelaran olahraga, yang memungkinkan guru mampu menentukan atau membuat keputusan yang benar mengenai pencapaian belajar siswa. Penilaian dapat dilakukan dengan tujuan untuk menetapkan nilai atau menetapkan umpan balik untuk mendiagnosis kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung (sumatit), sert melihat kemajuan belajar siswa (fonnatit). Penilaian juga dapat dilakukan terhadap proses, pada saat pembelajaran berlangsung atau dilakukan terhadap hasil, pada saat akhir pembelajaran. Sesuai dengan sifat dan fungsinya sebagai dokumen (catatan) pribadi setiap anak, maka kegiatan penilaian seharusnya dilakukan secara terus-menerus. Hal ini sangat penting untuk mengetahui kemajuan anak dari waktu ke waktu.
Dalam penggunaan model pembelajaran dengan pendekatan taktik, penilaian yang bersifat menyeluruh (proses dan hasil) lebih tepat digunakan. Untuk tujuan meningkatkan keterampilan gerak anak, penilaian harus bermuara pada semua aspek keterampilan. Dengan demikian apabila keterampilan gerak menjadi tujuan utama dalam pendekatan pembelajaran, guru harus dapat menilai keterampilan gerak bukan sekedar menguasai keterampilan gerak dasar (teknik dasar) saja. Sebagai contoh, dalam olahraga permainan softball, keberhasilan dalam melakukan permainan tidak hanya ditentukan oleh kerasnya pukulan atau tepatnya melempar, tetapi lebih pada pengambilan keputusan secara taktis untuk dapat memecahkan masalah-masalah dalam permainan yang dihadapi. Memukul dengan pelan tetapi dapat memajukan pelari seregu ke base berikutnya lebih baik daripada memukul ,keras, dapat mencapai base I, tetapi ternan seregu mati atau tidak dapat maju ke base berikutnya. Terhadap hal- hal semacam ini penilaian jarang dilakukan. Contoh di atas memberikan gambaran bahwa pengambilan keputusan dalam keterampilan bermain softball merupakan hal penting untuk dimiliki, sehingga dalam permaian, kesempatan untuk membuat skor, menahan terjadinya skor atau untuk memecahkan masalah-masalah taktis mempunyai peluang yang lebih besar. Untuk dapat menjamin terlaksananya penilaian secara menyeluruh seperti telah dikemukakan di atas, maka penilaian secara otentik harus dilakukan. Penilaian dikatakan otentik apabila menilai apa adanya dan dilakukan manakala anak menampilkan perilaku yang diharapkan (keterampilan bermain softball) dalam situasi nyata. Berdasarkan karakteristik penilaian secara otentik tersebut, maka observasi atau pengamatan merupakan teknik yang paling sesuai untuk digunakan dalam menilai keterampilan gerak. Hal ini karena aspek-aspek yang akan diukur merupakan berbagai perilaku yang ditampilkan secara langsung, yang intormasinya hanya dapat dikumpulkan melalui pengamatan berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan. Untuk dapat melakukan penilaian secara otentik diperlukan perencanaan yang baik. Pengembangan instrument hams dilakukan agar pengamatan yang dilakukan dapat mencakup aspek-aspek yang akan dinilai. Instrumen penilaian harus mencakup kemampuan-kemampuan yang ditampilkan untuk menyelesaikan masalah-masalah gerak.



BAB III
PENUTUP
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang berisikan serangkaian materi pelajaran yang memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan, perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan jasmani harus lebih dikembangkan ke arah yang lebih optimal sehingga peserta didik akan lebih kreatif, inovatif, terampil, memiliki kebiasaan hidup sehat, aktif yang dapat menggiring pada kesegaran jasmani, dan memiliki pengetahuan serta pemahaman terhadap gerak manusia. Pendidikan jasmani memiliki sasaran pedagogis yang jelas dan teerarah, oleh karena gerak sebagai aktivitas jasmani merupakan dasar alami bagi manusia untuk belajar mengenai dunia dan dirinya sendiri. yang berkembang sesuai dengan kemajuan jaman serta orientasi pendidikan yang berlaku. Dengan adanya ungkapan tersebut, jelaslah bagi guru bahwa pendidikan jasmani mempunyai arti penting bagi peningkatan life skill dalam pendewasaan peserta didik.
Ketersediaan sarana prasarana, perbedaan karakteristik siswa, dan perbedaan keyakinan guru yang menyebabkan munculnya variasi penekanan nilai dan tujuan kpendidikan jasmani merupakan sesuatu yang pasti ada, sehingga tidak mungkin selalu disamakan. Berbagai variasi tersebut merupakan bagian integral dari munculnya berbagai embrio model pembelajaran pendidikan jasmani yang sejalan dengan konsep pembelajaran pendidikan jasmani (Steinhart, 1992, Judith R., 1995). Pemodelan pembelajaran dari mulai yang bersifat embrio hingga menjadi bagian profesional guru dalam mengajar pendidikan jasmani akan dapat meningkatkan percaya diri guru dan meningkatkan relevansi pendidikan serta berujung pada makin meningkatnya mutu pendidikan jasmani di Indonesia.






DAFTAR PUSTAKA
Rahantoknam Edwar.B. Belajar motorik : Teori dan aplikasinya dalam pendidikan jasmani dan olahraga. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal pendidikan tinggi. 1988
Bucher, Charles A., Constance R. Koenig. (1983). Methods and materialsfor Secondary School Physical Education. St. Louis. The CV. Mosby Company.
Callahan, Joseph F., Leonard H. Clark. (1983) Foundation of Education. New York: Macmillan Publishing Company Inc.

Description: DIMENSI BELAJAR GERAK DALAM PENDIDIKAN JASMANI
Rating: 4.5
Reviewer: Amrank Berachunk
ItemReviewed: DIMENSI BELAJAR GERAK DALAM PENDIDIKAN JASMANI

0 komentar:

Poskan Komentar